Senin, 14 April 2014

Penyebab Kenakalan Remaja Islam di Indonesia

Penyebab Kenakalan Remaja Islam di Indonesia

     Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik – konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun pada masa remaja. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri dan sebagainya.
     Pertanyaannya : Tugas siapa itu semua ? Orang tua-kah ? Sedangkan orang tua sudah terlalu pusing memikirkan masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya. Saudaranya-kah ? Mereka juga punya masalah sendiri, bahkan mungkin mereka juga memiliki masalah yang sama. Pemerintah-kah ? Atau siapa ? Tidak gampang untuk menjawabnya. Tetapi, memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada. Di sinilah diperlukan penyamaan visi, persepsi dan dilakukanya kerjasama yang baik dari seluruh lapisan masyarakat di lingkungannya.Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu. Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut. Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya.
     Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk kenakalan seperti minum-minuman keras, tawuran, narkoba, tindakan pencurian, dan seks bebas, penyebabnya adalah remaja mengalami kesulitan dalam berfikir secara rasional dan lebih didominasi oleh kehidupan emosinya. Dalam menghadapi masalah cenderung tidak diselesaikan dengan cara yang rasional melainkan mengedepankan emosinya. Ketergantungan pada orang lain membuat pola piker remaja mudah berubah-ubah, pengaruh dari teman, pengaruh pergaulan, adanya kesempatan dan waktu bersama teman sepergaulan, solidaritas/setiakawan, individu merasa tersingkir atau kurang mendapat perhatian dari orang tua karena sibuk bekerja. Akhirnya remaja cenderung menikmati aktifitas diluar lingkkungan keluarga karena suasana dirumah tidak nyaman, didominasi oleh dorongan untuk mendapat kesenangan, kepercayaan diri yang berlebih, memiliki sifat kekanak-kanakan, kurang mandiri dan cenderung memikirkan diri sendiri, cenderung membesar-besarkan masalah, berprilaku agresif dan kadang frustasi, emosional yang labil, memiliki sifat tertutup. Kondisi perasaan yang mudah terganggu dan merasa tidak aman, kesulitan dalam penyesuaian diri, kehidupan emosional remaja menunjukan kurang matang dan kurang stabil, suasana hati yang mudah tersinggung. Hubungan keluarga kurang harmonis, cenderung tidak mau di kendalikan oleh orang tuanya dan bahkan tidak suka diperintah. Akibatnya adalah merasa sakit perut, sakit kepala dan terserang flu, fikiran tidak bisa konsentrasi dan focus, tidak bisa mengontrol diri kalau sedang menjadi berlebih dan kalau sedih, mikirnya juga berlebih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar