Menabung?? Hal yang
paling aku suka, mungkin tiap hari aku sisahkan uang saya untuk menabung.
Kebiasaan menabung ini, mulai saya lakukan pada saat usiaku 5 Tahun. Tujuan
saya menabung untuk membeli sebuah sepeda. Sepeda itu nantinya saya gunakan ke
sekolah. Selama ini saya naik angkot ke sekolah dengan biaya yang lumayan
mahal, karena jarak rumah saya ke sekolah berjarah 2 KM. Nama saya Ira, cewek
pendiam, cantik dan pintar. Aku suka sekali dengan Matematika, mungkin karena
kebiasaan menabung jadinya aku suka dengan Matematika. Sekarang saya sudah
kelas 8 SMP, umurku 13 tahun dan tinggal di sebuah rumah sederhana bersama sang
ibu tercinta. Ayah saya seudah meninggal ketika saya dilahirkan di dunia ini,
jadi seumur hidup aku tidak pernah melihat ayah. Ibuku pernah bilang “sampai
sekarang kamu itu tidak pernah digendong ataupun dipeluk oleh ayahmu”. Ayahku
ditabrak mobil saat sedang menyebrang jalan menuju rumah sakit dimana aku
dilahirkan. Di pagi hari aku berangkat ke sekolah naik angkot seperti biasa,
tiba-tiba aku berpapasang dengan seorang keluarga yang sedang berbahagia, ingin
rasanya aku seperti itu. Tapi sudahlah, itu semua adalah takdir Tuhan.
Ada pengumuman dari
pihak sekolah, katanya sih akan dilaksanakan kemah, tapi mana mungkin aku
meninggalkan sang ibu yang sendirian di rumah dan juga aku harus mengeluarkan
banyak uang transportasi untuk ke tempat kemah, jadi aku putuskan untuk tidak
mengikuti kemah tersebut. Sangat sedih pastinya. Tapi sya sangat dilema waktu
itu. Ita, teman saya memaksa saya untuk ikut kemah tersebuat, “Irha, kamu ikut
kemah yah!!” cakap ita dengan lembut, “Maaf yah, kalau saya pergi siapa yang
jaga ibu saya??, aku juga tidak punya uang untuk pergi kemah” jawabku dengan
Ikhlas. “Tenang irha, aku akan suruh pembantu saya untuk menjaga ibu kamu dan
biayanya kan sekolah yang tanggung” Balas Ita, “Benar?? Alhamdulillah, terima
kasih Ita, kalau begitu aku jadi ikut deh”
Jawabku dengan penuh gembira.
Semua siswa berangkat
ke tempat perkemahan, tapi di dalam Bus aku tidak melihat Ita, hatiku cemas dan
sedih. Saya langsung meminjam HP teman saya dan menelpon Ita. “Assalamu Alaikum
Ita, kamu ada di mana?? Bus Sudah dalam perjalanan nih…”. “Walaikum salam, ini
saya ayah dari Ita, Ita sedang dirawat di rumah sakit karena penyakitnya kambuh
lagi” Jawab ayah Ita. “BUSS STOPPP……..” teriak Irha. Irha turun dari bus dan
bergegas ke rumah sakit. Sesampai si rumah sakit, nyawanya tidak tertolong
lagi. Ita meninggal dunia, Ayah Ita sempat pingsan ketiak doktor mengatakan
bahwa Ita meninggal dunia. Dalam hati aku menangis, merenungi semua kebaikan
Ita padaku, dia selalu meminjamkan uang padaku untuk membeli buku, dia juga
selalu membela aku jika aku dihina miskin, kere dan lain sebagainya. “Sungguh
besar kebaikanmu Ita” kataku dalam hati. Ayah Ita menghampiriku, “Nak, ibumu
seorang janda kan?? Kemarin sebelum dia meninggal Ita berpesan agar saya
menikahi ibu Irha”
Seminggu setelah Ita
wafat, ayah Ita datang ke rumahku melamar ibuku. Saya menyambut baik kedatangan
Ayah dari Ita, dia masuk dan bercakap-cakap dengan ibuku, sementara saya di
dalam kamar, tapi masih bias dengar pembicaraan mereka. Yang aku dengar dari
pembicaraan mereka adalah mereka akan menikah dalam waktu dekat ini…….
Tiba-tiba ada seorang
pasien yang darurat, akupun memutuskan pembicaraan dengan seorang nenek tua.
Amat panjang kisah dalam hidupku, yang dipenuhi liku-liku dan warna-warni
hidup. Semua itu telah diatur Oleh Yang Maha Kuasa. Ku Bersyukur sekarang aku
telah menjadi seorang Dokter yang menyembuhkan orang sakit. Tapi sebenarnya bukan
Dokter yang menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Tuhan, Dokter hanya sebagai
Perantara. Semua yang telah terjadi di dunia ini pasti telah diatur oleh Tuhan,
kita hanya Tawakkal dengan apa yang diberikan dan juga selalu bersyukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar