Rabu, 30 April 2014

#Cerpenku: Bias Kehidupan

Menabung?? Hal yang paling aku suka, mungkin tiap hari aku sisahkan uang saya untuk menabung. Kebiasaan menabung ini, mulai saya lakukan pada saat usiaku 5 Tahun. Tujuan saya menabung untuk membeli sebuah sepeda. Sepeda itu nantinya saya gunakan ke sekolah. Selama ini saya naik angkot ke sekolah dengan biaya yang lumayan mahal, karena jarak rumah saya ke sekolah berjarah 2 KM. Nama saya Ira, cewek pendiam, cantik dan pintar. Aku suka sekali dengan Matematika, mungkin karena kebiasaan menabung jadinya aku suka dengan Matematika. Sekarang saya sudah kelas 8 SMP, umurku 13 tahun dan tinggal di sebuah rumah sederhana bersama sang ibu tercinta. Ayah saya seudah meninggal ketika saya dilahirkan di dunia ini, jadi seumur hidup aku tidak pernah melihat ayah. Ibuku pernah bilang “sampai sekarang kamu itu tidak pernah digendong ataupun dipeluk oleh ayahmu”. Ayahku ditabrak mobil saat sedang menyebrang jalan menuju rumah sakit dimana aku dilahirkan. Di pagi hari aku berangkat ke sekolah naik angkot seperti biasa, tiba-tiba aku berpapasang dengan seorang keluarga yang sedang berbahagia, ingin rasanya aku seperti itu. Tapi sudahlah, itu semua adalah takdir Tuhan.
Ada pengumuman dari pihak sekolah, katanya sih akan dilaksanakan kemah, tapi mana mungkin aku meninggalkan sang ibu yang sendirian di rumah dan juga aku harus mengeluarkan banyak uang transportasi untuk ke tempat kemah, jadi aku putuskan untuk tidak mengikuti kemah tersebut. Sangat sedih pastinya. Tapi sya sangat dilema waktu itu. Ita, teman saya memaksa saya untuk ikut kemah tersebuat, “Irha, kamu ikut kemah yah!!” cakap ita dengan lembut, “Maaf yah, kalau saya pergi siapa yang jaga ibu saya??, aku juga tidak punya uang untuk pergi kemah” jawabku dengan Ikhlas. “Tenang irha, aku akan suruh pembantu saya untuk menjaga ibu kamu dan biayanya kan sekolah yang tanggung” Balas Ita, “Benar?? Alhamdulillah, terima kasih Ita, kalau begitu aku jadi ikut deh”  Jawabku dengan penuh gembira.
Semua siswa berangkat ke tempat perkemahan, tapi di dalam Bus aku tidak melihat Ita, hatiku cemas dan sedih. Saya langsung meminjam HP teman saya dan menelpon Ita. “Assalamu Alaikum Ita, kamu ada di mana?? Bus Sudah dalam perjalanan nih…”. “Walaikum salam, ini saya ayah dari Ita, Ita sedang dirawat di rumah sakit karena penyakitnya kambuh lagi” Jawab ayah Ita. “BUSS STOPPP……..” teriak Irha. Irha turun dari bus dan bergegas ke rumah sakit. Sesampai si rumah sakit, nyawanya tidak tertolong lagi. Ita meninggal dunia, Ayah Ita sempat pingsan ketiak doktor mengatakan bahwa Ita meninggal dunia. Dalam hati aku menangis, merenungi semua kebaikan Ita padaku, dia selalu meminjamkan uang padaku untuk membeli buku, dia juga selalu membela aku jika aku dihina miskin, kere dan lain sebagainya. “Sungguh besar kebaikanmu Ita” kataku dalam hati. Ayah Ita menghampiriku, “Nak, ibumu seorang janda kan?? Kemarin sebelum dia meninggal Ita berpesan agar saya menikahi ibu Irha”

Seminggu setelah Ita wafat, ayah Ita datang ke rumahku melamar ibuku. Saya menyambut baik kedatangan Ayah dari Ita, dia masuk dan bercakap-cakap dengan ibuku, sementara saya di dalam kamar, tapi masih bias dengar pembicaraan mereka. Yang aku dengar dari pembicaraan mereka adalah mereka akan menikah dalam waktu dekat ini…….

Tiba-tiba ada seorang pasien yang darurat, akupun memutuskan pembicaraan dengan seorang nenek tua. Amat panjang kisah dalam hidupku, yang dipenuhi liku-liku dan warna-warni hidup. Semua itu telah diatur Oleh Yang Maha Kuasa. Ku Bersyukur sekarang aku telah menjadi seorang Dokter yang menyembuhkan orang sakit. Tapi sebenarnya bukan Dokter yang menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Tuhan, Dokter hanya sebagai Perantara. Semua yang telah terjadi di dunia ini pasti telah diatur oleh Tuhan, kita hanya Tawakkal dengan apa yang diberikan dan juga selalu bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar